Monday, 9 October 2017

Contoh Soal Metode Moving Average


Metode exponentielle Glättung adalah mengambil rata 8211 Glättung rata Dari nilai Pada beberapa periode untuk menaksir nilai Pada Suatu periode (Pangestu Subagyo, 1986: 3) Exponential Glättung adalah Suatu metode peramalan rata-rata bergerak Yang melakukan pembobotan menurun Secara exponentiellen terhadap nilai 8211 nilai observasi Yang Lebih tua (Makridakis, 1993: 79) Metode explonentielle Glättung merupakan pengembangan dari metode gleitender Durchschnitt. Dalam metode ini peramalan dilakukan dänischen mengulang perhitungan secara terus menerus dengan menggunakan data baru. 1. Metode Einzel exponentielle Glättung Metode einzelne exponentielle Glättung merupakan perkembangan Dari metode gleitenden Durchschnitt Sederhana, yang Mula Mula 8211 dengan rumus sebagai berikut: (1.1) (1.2) dan (1.3) (1.4) Perbedaan antara St1 dan St adalah sebgai berkut: ( a) Pada St1 terdapat sedangkan Pada St tidak terdapat (b) Pada St terdapat sedangkan Pada St1 tidak terdapat (Pangestu Subagyo, 1986: 18) Dengan Melihat hubungan di atas maka kalau nilai St sudah diketahui maka nilai St1 dapat dicari berdasarkan nilai St itu Kalau diganti dengan nilai Prognose pada tahun t (yaitu St) maka persamaan diubah Menjadi: (1.5) bisa diubah Menjadi: (1.6) Di dalam metode Exponential smothing nilai diganti dengan sehingga rumus Prognose Menjadi: St1 Xt (1 8211) St (1.7) ( Pangestu Subagyo, 1986: 19) Penerapan Teknik peramalan ini menghasilkan Tisch di bawah ini Tabelle I Nilai St contoh penggunaan metode Saingle exponentielle Glättung Keine Xt St 20 2 21 1 20 3 19 20,10 4 17 19,19 5 22 19,69 6 S7 (1 8211) S6 0,1 (24) (0,9) 19,92 20,33 Metode Einzelne Exponentielle Glättung lebih cocok digunakan untuk meramal hal 8211 hal yang fluktuasinya secara random (tidak teratur). 2. Metode Doble Exponentielle Glättung Metode ini merupakan Modell linearen yang dikemukakan oleh Brown. Didalam Merode Doble exponentielle Glättung dilakukan proses Glättung dua kali, sebagai berikut: St Xt (1 8211) St-1 (1.8) St S8217t (1 8211) (1.9) Rumusan ini agak berbeda dengan rumus Einzel exponentielle Glättung karena Xt dapat dipakai untuk mencari St bukan St1 Prognose dilakukan dengan rumus: Stm bei BTM (1.10) m jangka Waktu Prognose kedepan (1,11) (1,12) Metode doppelt exponentielle Glättung ini biasanya Lebih tepat untuk meramalkan Daten yang mengalami Trend naik. Agar dapat menggunakan rumus (1.8) dan (1.9) maka nilai St-1 dan St-1 Harus tersedia tetapi Pada saat t 1, nilai 8211 nilai tersebut tidak dapat tersedia. Jadi nilai 8211 nilai ini harus ditentukan pada awal Periode. Hal ini dilakukan dengan hanya menetapkans St dan Stan Sama dengan Xt atau dengan menggunakans suatu nilai pertama sebagai nilai awal. Contoh penggunaan Metode doble exponentielle Glättung untuk penjualan barang X. Tabelle 2 Volume penjualan barang X NO PERMINTAAN Barang 1 120 2 125 3 129 4 124 5 130 Sumber (Pangestu Subagyo, 1986: 26) Akan dicari ramalan Minggu ke-6 dengan menggunakan rumus ( 1,10) dengan 0,2. Perhitungan di mulai dengan menghitung St172 dengan rumus (1.8) yaitu St Xt (1-) St-1. X1 120, karena belum cukup Daten St dianggap sebesar 120 dan selanjutnya dengan rumus (1.8) secara berangkai didapatkan kemudian mencari nilai dengan rumus (1.9) yaitu dengan 0,2. 120 dan harga-harga hat ein neues Objekt erhalten: harga-harga hat ein neues Objekt erhalten: harga-harga hat eine neue Auszeichnung erhalten: vor 1 Jahr (en). Dari Secara berangkai didapat harga Dari Secara berangkai didapat harga-harga Harga ramalan tahun ke-6 diperoleh dengan rumus (1.10) yaitu Stm bei btm172 dengan m 1 dan 0,2 S6 a5 b5 126,84 0,64 127,48. Jadi ramalan penjualan Tunai ke-6 adalah 127,48 3. Metode Triple-exponentielle Glättung Metode ini merupakan metode Prognose Yang dikemukakan oleh Brown, dengan menggunakan persamaan kwadrat. Metode ini lebih cocok kalau dipakai untuk Membranvorhersage yang berfluktuasi atau mengalami gelombang pasang surut. (Pangestu Subagyo, 1986: 26). Prosedür pembuatan Prognose dengan metode ini sebagai berikut: Carilah nilai dengan rumus sebagai berikut: (1.13) Untuk tahun pertama nilai belum bisa dicari dengan rumus di atas, maka boleh ditentukan dengan bebas. Biasanya ditentukan sama seperi nilai yang telah terjadi pada tahun pertama. Carilah nilai dengan rumus: (1.14) Pada tahun pertama biasanya nilai ditentukan seperti nilai Yang terjadi Pada tahun pertama: Carilah nilai (1,15) Untuk nilai tahun pertama biasanya dianggap sama dengan Daten tahun pertama. Carilah nilai (1.17) Carilah nilai (1.18) Buat persamaan prognose (1.19) m adalah jangka waktu maju ke depan, yaitu berapa tahun yang akan datang prognose dilakukan. Bei, bt, ct adalah nilai yang telah dihitung sesuai dengan rumus di depan. Contoh penggunaan metode Triple-exponentielle Glättung untuk peramalan penjualan kita gunakan Daten Tabel 2. Akan tetapi ramalan tahun ke-6 menggunakan rumus (1,19) dengan 0,2. Dari contoh di atas kita, sudah mendapatkan, nilai, dan, maka, kita, harus, mencari, nilai. Bei, bt, ct dengan. 120 dengan rumus (1,16) diperoleh harga-harga Dengan mengggunakan rumus (1.16) (1.17) (1.18) harga an, bt, ct bisa didapat Harga ramalan tahun ke-6 diperoleh dengan menggunakan rumus (1,19) Papi Al-Javani 11.48.00 Metode Metode rata-rata bergerak banyak digunakan untuk menentukan tendenz dari suatu deret waktu. Dengan menggunakan metode rata-rata bergerak ini, deret berkala dari daten asli diubah menjadi deret rata-rata bergerak yang lebih mulus. Metode ini digunakan untuk Daten Yang perubahannya tidak cepat, dan tidak mempunyai karakteristik musiman atau saisonale. Modell rata-rata bergerak mengestimasi Permittaan Periode berikutnya sebagai rata-rata Daten permintaan aktualisieren Dari n Periode terakhir. Terdapat tiga macam Modell rata-rata bergerak, yaitu: 1. Simple Moving Average 2. zentrierten gleitenden Durchschnitt 3. Perhitungan Bewertungen die persediaan dengan metode Durchschnitt atau rata-rata Umzug AveragePengertian dan Contoh Metode Durchschnitt Serta Perhitungan HPPnya von Wisnu auf 15,2014 März Weighted Tertimbang merupakan cara yang bleichen simpel dalam menentukan nilai saldo akhir persediaaan barang dagangan. Akan tetapi sebelum kita memulai contoh perhitungan Bewertungen die saldo akhir barang Dagangan dengan metode Durchschnitt ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu pengertian Dari metode Bewertungen die persediaan Durchschnitt Supaya Lebih memahami konsepnya. Pengertian dan konsep penilaian persediaaan dengan metode durchschnittlich Terbagi dua, gewichteter Durchschnitt atau disebut sebagai rata-rata tertimbang dan gleitender Durchschnitt yaitu rata-rata tertimbang bergerak. Pada perhitungan Bewertungen die persediaan dengan metode harga rata rata tertimbang berarti bahwa nilai saldo awal barang Dagangan ditambah dengan Gesamt pembelian barang Dagangan dibagi dengan Gesamt kuantitas barang Dagangan Yang dibeli ditambah dengan kuantitas saldo awal, Dari hasil ini Akan diperoleh harga rata-rata. Lalu harga rata-rata tersebut dikali kan dengan kuantitas stok akhir yang diperoleh dari hasil auf lager opname atau hasil dari stock karte. Akhirnya akan diperoleh nilai saldo akhir barang dagangan. Sedangkan Pada perhitungan Bewertungen die persediaan dengan metode gleitenden Durchschnitt, setiap pembelian barang Dagangan Yang terjadi ditambahkan ke nilai saldo persediaan barang Dagangan lalu dirata-ratakan dengan kuantitas Yang tersedia untuk menentukan harga Pokok penjualan rata rata Ketika barang dijual. Harga rata-rata pada metode gleitender Durchschnitt harus diupdate setiap saat pada saat barang masuk dan keluar. Untuk yang rata-rata tertimbang digunakan pada metode pencatatan persediaan periodik dan yang gleitender Durchschnitt digunakan pada metode pencatatan persediaan perpetual. Lebih jelasnya mari kita pelajari contoh dibawah ini. Contoh Metode Durchschnitt untuk pencatatan persediaan Secara periodik (Periodik Average) Yeng Perlu kita ketahui Pada saat menggunakan metode Durchschnitt untuk menilai saldo akhir Inventori ternyata ada perbedaaan hasil antara metode gewichteter Durchschnitt untuk periodik dengan motode Durchschnitt untuk ewigen bewegen. Tetapi selisih nya tidak terlalu jauh. Selain itu, Kita Harus konsisten dengan metode yang kita pilih. Jika telah menggunakan metode durchschnittlich maka harus digunakan metode durchschnittlich seterusnya jangan berubah-ubah. Dari durchschnittlich ke FIFO, abis FIFO ke LIFO lalu ke durchschnittlich lagi. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan mengenai pengertian als contoh metode durchschnittlich serta perhitungan HPPnya, semoga posting kali ini bermanfaat bagi para pembaca. Atau jika ingin mempelajari metode sebelumnya yaitu metode FIFO dan LIFO bis zum mengikutik Link berikut: Beitrag Navigation

No comments:

Post a Comment